Halo, bagi rekan rekan yang hendak ke Toulouse, silakan mengunduh informasi berikut ini
Buku Panduan PPI Toulouse
Posted in PPI Toulouse News
Pergantian Kepengurusan PPI Toulouse
Pada hari Sabtu, 19 Juni 2010, telah diadakan rapat anggota untuk mengganti kepengurusan PPI Toulouse, sebagai berikut :
Ketua : Arip Muttaqien
Sekretaris : Arief Nur Budiman
Bendahara : Herri Michael
Posted in PPI Toulouse News
Surat Pernyataan PPI Prancis terhadap Insiden Kapal Marmara
Posted in PPI Toulouse News
Selamat kepada Afif
Berikut pengumuman penerima BGF 2010,
http://www.ambafrance-id.org/spip.php?article460
Selamat kepada AFIFUDDIN LATIF ADIREDJO atas rezeki yang diperoleh dari BGF.
Semoga bisa memberi semangat bagi rekan-rekan yang lain.
Posted in PPI Toulouse News
Selamat !
PPI Toulouse memberikan ucapan selamat kepada
Ayang Utriza (EHESS, Paris)
Dwi Setyowati (Sciences Po, Toulouse)
Luth (Rennes)
atas penghargaan Prix Mahar Schützenberger 2010.
Penghargaan ini diberikan untuk peneliti muda dari Indonesia sejak tahun 1991, yang khusus mendedikasikan sebagian besar dari waktunya untuk membuat disertasi berkualitas.
Semoga penghargaan ini dapat menyuntikkan semangat untuk rekan-rekan yang lain.
Bravo !
PPI Toulouse
Posted in PPI Toulouse News
Mari Bercuap-Cuap Bebas di Dunia Web 2.0
Tulisan sebelum rehat dari facebook.
Beberapa hari yang lalu, seorang teman di kampus bertanya, “Why do you have more than two thousands friends on your facebook?” Saya hanya tertawa saja. Agak sulit juga menjawabnya. Tapi hal yang tidak mustahil bahwa di Indonesia bukan hal yang asing jumlah teman di facebook lebih dari 1.000 orang.
Saya amati teman-teman di sini, paling mereka hanya ratusan. Atau tepatnya dibawah 500. Bisa dihitung dengan jari siapa saja yang punya teman diatas 500 orang. Iseng-iseng saya cari berapa jumlah pengguna facebook Indonesia, dan saya dapat data dari sini. Disitu disebutkan bahwa Indonesia menempati ranking ketiga dengan jumlah 23,2 juta. Lima besar pengguna facebook adalah Amerika Serikat (121,6), Inggris Raya (25,5 juta), Indonesia (23,2 juta), Turki (20,8 juta), dan Prancis (17,9 juta).
Mencengangkan memang. Saya berusaha mencari sumber lain sebagai pembanding. Misalnya wikipedia, namun ternyata wikipedia merujuk dari situs yg sama (www.facebakers.com). Saya bandingkan dengan sumber lain, sepertinickburcher, checkfacebook, dan lain-lain. Namun data dari sumber pertama lebih meyakinkan karena digunakan di wikipedia, yang artinya penulis-penulis wikipedia pasti sudah ngubek-ngubek data lain di internet.
Oke, kalau memang berpegang pada data pertama, yaitu jumlah pengguna facebook di Indonesia sudah mencapai 23,2 juta, apakah masih ada kemungkinan bertambah pesat? Saya jawab dengan yakin, kemungkinan besar masih pada saat ini. Mengapa? Dengan jumlah 23,2 juta, sebenarnya tingkat penetrasi hanya 9,9 persen. Bandingkan dengan Amerika Serikat (40,76 persen), Inggris Raya (43,09 persen), Turki (28,62 persen), dan Prancis (29,53).
Indonesia belum masuk dalam titik jenuh pertumbuhan facebook, dan saya yakin market penetration masih akan bertambah. Apalagi dengan budaya kekeluargaan di Indonesia yang jelas lebih tinggi dibanding negara barat. Bukan hal yang sulit bagi Indonesia untuk menempati peringkat kedua dibawah Amerika Serikat. Tentunya kecepatan pertumbuhan sebanding dengan pertumbuhan ketersediaan internet (supply) dan penurunan harga (pricing). Kalau faktor-faktor ini mendukung, maka facebook sebagai social networking paling nge-trend saat ini pasti akan berkembang.
Web 2.0 dan Media Konvensional
Kasus facebook diatas hanyalah secuil kasus dari keberhasilan web 2.0. Sebenarnya apa generasi 2.0? Istilah web 2.0 dipopulerkan oleh Tim O’Reilly pada tahun 2004. Sebenarnya Darcy DiNucci pernah menggunakan istilah web 2.0 dalam tulisan “Fragmented Future” tahun 1999 namun tidak terlalu populer hingga tahun 2003. Secara sederhana, web 2.0 merujuk pada kemungkinan partisipasi aktif dari user internet dalam pengembangan content, interaksi antara user, dan saling berbagi informasi. Contoh paling mudah adalah social networing, wikipedia, youtube, slideshare, 4shared,rapidshare, blog (wordpress, blogspot, multiply dll), media cetak (kompas, detik, dll), forum (kaskus), dan sebagainya.
Yang ingin saya tekankan adalah, sejak berkembangnya konsep web 2.0, maka peran internet menjadi lebih besar. Sebagai contoh, anak muda jaman sekarang lebih memilih membaca berita online daripada membaca koran cetak. Jangan bayangkan anak muda jaman sekarang masih mau minum kopi atau teh di pagi hari sambil membaca koran. Mereka lebih memilih mengakses berita di kantor, dari media online, atau dari perangkat mobile.
Anak muda jaman sekarang lebih asyik berdiskusi dalam forum dunia maya, karena justru memberikan kesempatan sebebas-bebasnya. Siapapun pun bisa membuat account di kaskus dan membuat thread dan memberi komentar, entah dalam bentuk mailing list, forum, dan social networking. Twitter dan facebook sudah biasa jadi tempat mengungkapkan perasaan anak muda. Anak muda ini didominasi oleh remaja (ABG), mahasiswa, pekerja kantoran, kalangan menengah, dan kalangan perkotaan. Mereka cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik daripada rata-rata.
Satu kasus keberhasilan peran web 2.0 adalah terpilihnya Barack Obamasebagai presiden ke-44 Amerika Serikat. Tim kampanye Obama cerdas menggunakan internet sebagai tools kampanye. Tim Obama tahu benar kalau anak muda di AS memang gandrung internet. Ketimbang hanya berkutat dengan media konvensional, Obama lebih memaksimalkan peran social networking. Personal branding seorang Obama mudah terbentuk dalam waktu sekejab. Bandingkan dengan politisi konvensional yang membangun karir politik selama puluhan tahun. Bandingkan dengan Hillary Clinton yang sudah mempersiapkan diri sejak tahun 2000. Obama sendiri baru muncul dikenal publik tahun 2004 sebagai keynote speaker kongres Demokrat dan baru menyatakan maju dalam konvensi nasional Demokrat pada awal 2007.
Itu kasus di AS, dimana market penetration tinggi untuk internet. Jika saat ini kita berharap bahwa Indonesia bisa mengalami kasus serupa seperti di AS, rasanya itu baru mimpi untuk saat ini. Sebagai negara berkembang, hal yang wajar jika penetrasi internet di Indonesia masih redah dibandingkan dengan negara maju. Penetrasi internet tentu saja didominasi kalangan perkotaan dan kalangan muda.
Namun pelan-pelan Indonesia sudah mulai menunjukkan peningkatan. Setidaknya dengan berkembangnya aplikasi internet yang mobile, ternyata memberikan dampak yang lumayan bagi kolaborasi web 2.0. Aktivitas user di dunia maya meningkat pesat. Dari sekedar menulis status tidak penting hingga umpatan kepada politisi. Semua bisa kita temukan di dunia maya.
Opini Publik
Sudah bukan rahasia lagi jika media massa berpengaruh besar dalam pembentukan opini publik. Sangat sedikit kita bisa menemukan media massa yang benar-benar netral. Bagi saya, omong kosong menemukan media massa yang benar-benar netral. Contoh paling mudah adalah jika Anda mengikuti kasus politik di Indonesia sejak jaman reformasi. Kalau memang jeli melihat stasiun TV, kita mestinya bisa melihat stasiun TV mana yang memihak kelompok A dan kelompok B. Kalau rajin membaca koran setiap hari, kita bisa melihat koran mana yang memihak kelompok A dan kelompok B.
Masyarakat sebagai konsumen utama media massa, pada akhirnya terkena pengaruh media massa. Ungkapan yang mudah adalah pembentukan opini publik. Sudah bukan rahasia umum beberapa media massa dikuasai oleh orang-orang tertentu. Hal yang logis bagi pemilik media massa, karena dia mendapat incentive untuk mempengaruhi opini publik. Apalagi jika pemilik media adalah politisi yang merangkap pengusaha. Penguasaan media massa adalah hal penting untuk membangun opini publik.
Namun apakah opini publik saat ini hanya bisa dibentuk oleh media konvensional? Beberapa kasus yang terjadi menunjukkan bahwa terdapat peluang besar dari perkembangan web 2.0. Di AS, kemenangan Obama tak bisa dilepaskan dari penggunaan social networking. Jika Anda mau sedikit memutar memori, kita bisa menemukan beberapa kasus yang melibatkan penggunaan web 2.0.
Masih ingat dengan fenomena Say No to Megawati? Di kalangan facebook, Mega dihina-hina sebagai calon presiden 2009. Kasus ini sempat membuat heboh kalangan facebook-ers. Apalagi kalau untuk urusan mencaci maki, memang sangat mudah dilakukan.
Masih ingat dengan kasus Prita? Kasus Prita dengan RS Omni International mencuat ke publik pada pertengahan 2009. Prita bukan siapa-siapa sebelumnya. Namun perkembangan social networking memungkinkan kasus ini menyebar dengan cepat. Apalagi kasus ini bukan termasuk kasus politik, dimana semua orang dari berbagai kalangan by defaultakan memihak Prita sebagai orang yang dianiaya. Tidak kurang semua Calon Presiden bersimpati kepada Prita.
Masih ingat dengan kasus Sony AK? Sony AK sebagai pemilih sah website tersebut digugat Sony Corp dari Jepang karena dianggap melanggar hak cipta. Kasus ini berkembang dengan cepat di dunia maya. Dukungan mengalir spontan untuk membela Sony AK dari gugatan Sony Corp.
Apakah peran web 2.0 selalu berhasil? Diatas adalah contoh beberapa kasus yang berhasil. Tidak dapat dipungkiri bahwa kasus Prita bisa mencuat ke publik berkat solidaritas user di dunia maya. Kasus terakhir adalah kriminalisasi KPK. Perkembangan kasus ini tak dapat lepas dari keterlibatan facebook-ers, hingga terbentuk grup di facebook yang beranggota lebih dari satu juta orang! Bahkan mereka bisa mengumpulkan dukungan publik dengan aksi nyata di bundaran Hotel Indonesia pada 8 November 2009.
Mantan aktivitas mahasiswa, Fadjroel Rahman pernah mencoba menggunakan web 2.0 untuk mendongkrak popularitas menjelang pemilihan Presiden 2009. Namun, sayang sekali Indonesia tidaklah sama seperti AS. Jumlah pengguna internet di Indonesia masih sedikit. Fadjroel Rahman terlalu sembrono membandingkan apple to apple dengan kasus kemenangan Obama di AS. Yah, itu contoh yang gagal. Gagal karena tidak didukung dengan strategi dan memang kondisi di Indonesia masih terlalu jauh untuk disamakan dengan AS.
Dengan melihat aktivitas user di dunia maya yang makin meningkat, bukan tidak mungkin kondisi kedepan akan berubah lebih maju. Asalkan penetrasi internet meningkat dengan cepat, maka peran web 2.0 akan makin meningkat.
Alternatif Kedepan
Setidaknya kita punya alternatif lain selain dominasi media konvensional. Masyarakat berhak mendapat informasi dari beragam sumber. Masyarakat merdeka untuk mendapatkan berita sesuai pilihannya. Masyarakat berhak mengungkapkan pendapat. Media konvensional tidak memberikan ruang besar bagu masyarakat untuk beropini. Setidaknya web 2.0 memberikan kemungkinan bagi wong cilik untuk bebas bercuap-cuap.
Dengan media sederhana semacam social networking dan blog, semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk mencurahkan ide. Facebook, twitter, blog, kompasiana, kaskus, dan forum detik menjadi ajang yang ramai untuk berekspresi.
Setidaknya inilah yang saya lihat dalam perkembangan opini di dunia maya. User dengan bebas memaki-maki. Sebagai contoh, kasus terakhir adalah mundurnya Sri Mulyani dari Menteri Keuangan. Dalam beberapa hari terakhir, saya melihat ungkapan muak kepada politisi. Bagi pendukung Sri Mulyani, mereka banyak menumpahkan rasa kesal pada politisi. Untuk lebih detail, silakan lihat KPI SMI, salah satu grup pendukung SMI.
Saya bukan politisi dan termasuk kelompok yang muak pada politisi, namun tidak selamanya saya selalu setuju pada perkembangan caci mencaci. Kalau melihat foto-foto dalam kasus caci mencaci, lama-lama terlihat bahwa menjurus ke fisik, seperti nampak pada foto ini. Jika melihat perkembangan kasus Century, lama-lama saya sendiri juga muak dengan ulah politisi. Kemarin bilang tempe, hari ini bilang tahu. Biarkan saja kasus ini berjalan di rel hukum dan jangan disetir dari sisi politis.
Bagaimana selanjutnya perkembangan kasus ini di dunia maya? Apakah dunia maya bisa berpengaruh besar dalam pembentukan opini publik dalam kasus ini? Kita tunggu saja perkembangan dalam sebulan ini.
Tapi, itulah efek dari keterbukaan dan kebebasan dalam berkolaborasi ala web 2.0. Semua user punya kesempatan yang sama untuk berekspresi. Kalau tidak berhati-hati, perkembangan teknologi bisa menerkam balik manusia sendiri. Barack Obama termasuk orang yang cerdas dan berhasil memanfaatkan nilai positif dari generasi 2.0.
Pendapat saya?
Biarkan saja semua berkembang. Semua akan mengalami pendewasaan pada waktunya. Tidak usah terlalu banyak diatur. Pemerintah tak perlu aneh-aneh bikin aturan yang aneh-aneh. Saya sempat berpikir, jangan-jangan Menkominfo akan membuat peraturan aneh-aneh tentang perkembangan internet. Kasus terakhir adalah RPM Konten dan Multimedia. Kasus ini sudah meredup saat ini. Konyol memang.
Yang perlu diatur adalah bagaimana pembuat konten bertanggung jawab atas semua yang ditulis. Setidaknya, dalam era web 2.0, peran media konvensional lebih berkurang dibanding sebelumnya. Berkurang disini, artinya kemampuan media konvensional untuk membentuk opini publik berkurang karena terdistorsi oleh perkembangan web 2.0. Namun kedua model tersebut bisa saling melengkapi.
Masyarakat punya kesempatan luas untuk memantau politisi. Politisi yang biasa bersilat lidah akan mudah tercatat semua tingkah lakunya.
Dan saya membayangkan 150 juta rakyat Indonesia bisa menikmati akses internet dengan lancar. Wow… Bayangkan saja jika mereka semua punya facebook, twitter, youtube dan semuanya. Dan ketika seorang politisi bikin ulah, semua status di social networking langsung mencaci maki politisi tersebut.
Masih mimpi….
Toulouse, 9 Mei 2010, 19:30 CET
Tulisan ini dibuat dengan kepala sedikit miring, seperti gedung DPR
Mohon maaf jika setelah baca ini, pikiran Anda jadi miring juga
Posted in Tulisan
Sungai Garonne Banjir
Dalam dua hari ini, cuaca cenderung hujan terus menerus. Akibatnya, suhu udara menjadi lebih dingin, dan kami harus keluar dengan baju lebih tebal. Bayangkan, Mei seharusnya musim semi, tapi hari ini Toulouse bersuhu 6 celcius! Wow! Apakah ini keanehan?
Hari ini, kebetulan saya lewat di pinggir Sungai Garonne. Terlihat debit air lebih tinggi dari biasanya. Saya tak melewatkan kesempatan ini, maka saya ambil video-nya. Dari video terlihat bahwa debit air meningkat dan air berwarna coklat.
NB : Maaf kalau gambarnya gerak-gerak dan aneh. Maklum, ambil video cuma dari handphone dg resolusi 2 MP. Itupun yg ngambil gambar buru-buru mau kuliah.
Posted in Kisah Perjalanan | Tags: garonne
May Day, 1 Mei 2010
May Day.
Sebagian besar dari kita pasti tidaklah asing dengan istilah “May Day”, sebuah peringatan hari buruh internasional. Di akhir bulan April atau menjelang bulan Mei, pasti berita berita terisi dengan menghangatnya hari buruh. Entah dilakukan dengan mogok kerja atau demonstrasi.
Satu peristiwa yang terkenang dalam sejarah adalah Haymarket affair, dimana ratusan buruh meninggal ketika melakukan demonstrasi. Buruh-buruh tersebut menjadi korban ketika berhadapan dengan aparat. Peristiwa yang terjadi menjelang bulan Mei 1886, pada awalnya menuntut perbaikan nasib buruh di Chicago, Amerika Serikat. Tuntutan yang diteriakkan para buruh adalah “delapan jam kerja sehari”. Dalam demonstrasi saat itu, buruh bersama keluarga turun ke jalan melawan kaum borjouis. Kemudian tanggal 1 Mei 1886, ratusan ribu buruh di Amerika Serikat melakukan mogok kerja diberbagai tempat. Pemerintah berusaha meredam mogok kerja. Namun hasil akhirnya adalah kematian ratusan buruh karena ditembaki polisi. Peristiwa ini dikenal sebagai Haymarket affair yang terjadi pada 4 Mei 1886. Peristiwa ini menjadi sejarah peringatan hari buruh internasional setiap 1 Mei.
Karena disebut hari internasional, maka buruh diberbagai negara merayakan 1 Mei. Tidak mengherankan jika di beberapa negara, 1 Mei adalah hari libur nasional. Tidak demikian di Indonesia. 1 Mei bukanlah hari libur nasional. Namun di Indonesia, tiap tahun pada peringatan hari buruh, hampir dipenuhi dengan demonstrasi kaum buruh. Tuntutan mereka selalu sama dari tahun ke tahun, yaitu perbaikan kesejahteraan.
Lantas, siapakah sebenarnya kaum buruh. Buruh, dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai labour, atau kadang ditulis labor. Labour adalah british English yang digunakan di negara-negara English speaking kecuali Amerika Serikat. Sedangkan Amerika Serikat menggunakan kata labor. Namun dalam kenyataan, beberapa negara selain Inggris juga memilih menggunakan kata labor daripada labour. Bagaimana contoh yang mudah? Labour Party (United Kingdom), Australian Labor Party, International Labour Organization, labour economics, labor economics, dan lain-lain. Semuanya mengandung arti kata yang sama.
Di Indonesia, kosa kata “buruh” telah mengalami penurunan makna (peyorasi). Buruh dikesankan sebagai tenaga kerja untuk pekerjaan kasar. Sedangkan kata yang lebih enak didengar adalah “tenaga kerja”, atau “pekerja”. Serikat buruh cenderung mendapat image berbeda dibanding serikat pekerja. Padahal dua kata itu mengandung arti yang sama dalam aktivitas ekonomi. Dalam tulisan ini, saya lebih suka menggunakan buruh sebagai bentuk tenaga kerja dalam aktivitas perekonomian. Saya tidak terlalu suka menggunakan perbedaan istilah buruh, tenaga kerja, atau apapun. Toh, pada akhirnya kata-kata tersebut merujuk pada arti yang sama.
Pada dasarnya, dalam aktivitas perekonomian, semua tenaga kerja disebut buruh (labor). Dalam sudut pandang ekonomi, dimana terdiri dari rumah tangga (household) dan perusahaan (firm), buruh (labor) adalah penggerak dalam perekonomian. Household berperan dalam menyumbangkan labor dalam proses produksi. Labor akan menerima upah (wage) dari hasil pekerjaan. Sedangkan firm akan mendapatkan keuntungan dari hasil produksi.
Secara sederhana, disini terdapat dua tujuan utama. Bagi rumah tangga, tujuan utama adalah maksimalisasi utilitasnya (utility maximization problem). Tiap rumah tangga melalui buruh menerima upah dari hasil pekerjaan. Upah tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sedangkan bagi perusahaan, tujuan utama adalah mencari keuntungan maksimal, yaitu dari selisih pendapatan (revenue) dengan biaya (cost). Upah yang diberikan kepada buruh dimasukkan dalam faktor biaya.
Disinilah biasanya terjadi perselisihan antara buruh dengan perusahaan. Perusahaan punya tujuan untuk maksimalisasi keuntungan. Salah satu caranya adalah menekan upah buruh agar tidak mengurangi keuntungan. Sedangkan dari sudut pandang buruh, mereka berkeinginan mendapatkan upah yang lebih tinggi untuk memaksimalkan utilitas (utility). Dalam hal ini dapat diterjemahkan untuk meningkatkan daya beli rumah tangga.
Mari kita masukkan pihak ketiga, yaitu pemerintah (government), yang bertugas sebagai regulator. Pemerintah bisa menjadi pihak penengah jika terjadi perselisihan antara buruh dengan perusahaan. Bentuk negosiasi ini biasa dikenal sebagai tripartit (pemerintah, perusahaan, dan organisasi pekerja). Buruh biasanya berafiliasi dalam serikat pekerja atau serikat buruh. Disinilah peran penting pemerintah untuk mengatasi masalah yang muncul. Pemerintah sendiri sudah membentuk Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dalam tataran pemerintahan daerah, kita bisa menemukan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) ataupun lembaga lain yang dilebur dengan satuan tugas lain. Contoh paling gampang adalah kerusuhan yang terjadi di Batam beberapa hari yang lalu yang dipancing oleh masalah SARA. Disitu dituntut peran pemerintah secara cepat dan tepat.
Lalu bagaimana menyikapi May Day dari berbagai sudut pandang?
Sudut pandang pertama adalah dari kaum buruh. Kaum buruh tidaklah salah menuntut jaminan kehidupan yang lebih layak. Siapa yang mau gaji rendah? Tentu semua buruh mengharapkan gaji yang layak untuk bisa hidup. Sudah tahu pula bahwa di Indonesia tingkat inflasi termasuk tinggi (sebuah kejadian yang lumrah dalam negara berkembang), maka dari tahun ke tahun biaya hidup akan makin meningkat. Bagi buruh yang berpendapatan rendah, sangat sulit baginya untuk melakukan “loncatan kualitas” kehidupan. Sangat sulit bagi dia untuk bisa hidup lebih sejahtera. Incentive bagi buruh adalah gaji yang layak untuk hidup cukup.
Contoh paling mudah, berapa banyak buruh yang dilindungi oleh sistem jaminan sosial? Berapa banyak buruh yang bekerja dalam lingkungan tidak sehat? Berapa banyak buruh yang mengalami diskriminasi dalam hak-hak sosialnya? Berapa persen buruh yang bisa menikmati hidupnya?
Sebuah logika sederhana mungkin bisa menuntun cara berpikir kita. Bandingkan dua buah rumah tangga, satu rumah tangga miskin dan satu rumah tangga sangat kaya. Si rumah tangga miskin harus bekerja sangat keras untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup. Entah rumah tangga miskin itu bekerja serabutan dalam 12 jam/hari, bahkan lebih. Sedangkan rumah tangga sangat kaya, tidak perlu effort tinggi untuk bisa hidup nyaman. Rumah tangga sangat kaya sudah mendapatkan penghasilan yang layak dan jaminan kehidupan yang aman. Dan fakta seperti ini banyak terjadi di lapangan, dimana jutaan buruh perlu bekerja sangat keras (effort tinggi) untuk mencapai hidup yang layak.
Sudut pandang kedua adalah dari perusahaan. Perusahaan tidaklah salah jika bertujuan untuk mencari keuntungan maksimal, karena memang tujuan lumrah perusahaan. Incentive bagi perusahaan adalah mencari keuntungan agar bisa terus hidup. Dalam kenyataan, banyak perusahaan berusaha menekan pengeluaran untuk gaji buruh. Sudah bukan rahasia umum bahwa iklim investasi di Indonesia bukanlah menjadi sebuah prestasi yang bisa dibanggakan. Alih-alih bersaing dengan China sebagai raksasa baru. Bersaing dengan negara-negara di ASEAN pun Indonesia masih tertinggal. Maka perusahaan hanya menjadi “korban” dari iklim investasi yang buruk. Dampak langsung adalah naiknya biaya produksi yang tidak perlu, seperti jalan macet, birokrasi yang lama, pungutan dan sebagainya. Faktanya, upah buruh memang menjadi biaya bagi perusahaan.
Tidak ada yang salah dengan sudut pandang tersebut. Namun tidak selamanya pula uang yang keluar untuk buruh adalah biaya. Mengapa tidak melihat sebagai “investasi” untuk masa depan? Anggaplah buruh sebagai investasi bagi perusahaan. Maju atau mundurnya perusahaan sangatlah tergantung dari aktivitas buruh masing-masing. Perusahaan yang cerdas adalah perusahaan yang bisa menghargai kemampuan buruh. Namun dalam tataran nyata, konsep ini tidaklah bekerja untuk buruh bergaji kecil. Jangan berpikir terlalu jauh. Buruh bergaji kecil seperti buruh pekerja massal, buruh pabrik rokok, buruh kasar, dan sebagainya. Mereka adalah kaum buruh yang sangat perlu mendapatkan perlindungan.
Sudut pandang ketiga adalah dari iklim investasi. Bagi iklim investasi, terlalu banyak pemogokan buruh justru memperburuk iklim investasi. Coba hitung, berapa banyak waktu terbuang jika buruh dalam satu perusahaan mogok. Berapa besar kerugian material jika serikat pekerja memutuskan untuk mogok kerja? Jika saya sebagai investor, tentu saya lebih memilih negara yang tidak terlalu banyak mogok kerja.
Contoh nyata ketika saya temui di Prancis adalah, seringkali terjadi mogok kerja atau dalam bahasa Prancis disebut grève. Hampir tiap bulan ada saja grève. Contohnya, grève yang dilakukan karyawan perusahaan kereta api di bulan April. Mogok kerja yang mereka lakukan sangat menganggu transportasi di Prancis. Banyak sekali calon penumpang kecewa karena batalnya perjalanan. Coba bayangkan jika ada acara penting. Hitunglah berapa kerugian yang terjadi.
Mogok kerja memang menjadi cara ampuh untuk negosiasi. Dalam teori ekonomi, buruh sebagai serikat pekerja punya daya tawar (bargaining position) yang kuat. Apalagi jika mogok kerja dilakukan hampir semua serikat kerja. Perusahaan menjadi tidak berdaya. Dalam kasus inilah buruh punya daya tawar yang lebih tinggi.
Sudut pandang keempat adalah pemerintah. Pemerintah sebagai anggota tripartit memang harus menjadi penengah yang adil. Pemerintah menjadi regulator yang membuat aturan yang menguntungan semua pihak. Bukan hanya bagi perusahaan, namun pemerintah juga harus bisa memberi jaminan bagi kesejahteraan buruh.
Lalu, sudut pandang mana yang paling tepat? Semua sudut pandang memang harus digunakan. Tidak bisa hanya dari satu sudut pandang. Tujuan utama adalah maksimalisasi kesejahteraan sosial (social welfare), yang berarti memaksimalkan seluruh pihak, yaitu buruh, perusahaan, dan pemerintah. Bagi buruh, mereka mesti mendapatkan kesejahteraan yang layak, terutama bagi buruh kalangan bawah. Bagi perusahaan, mereka harus dijamin untuk bisa beroperasional secara berkesinambungan. Bagi pemerintah, tugasnya adalah membuat iklim investasi yang bagus bagi semua pihak. Jika iklim investasi bagus, maka akan banyak perusahaan yang berinvestasi di Indonesia. Efeknya adalah perusahaan bisa beroperasional lebih lama, tingkat pengangguran menurun, kesejahteraan masyarakat meningkat, hingga pajak meningkat (baik dari pajak perusahaan maupun pajak personal).
Ternyata, jalan menuju ke arah situ masih jauh.
Mari kita tunggu bagaimana ke depan.
Akhir kata, welcome May Day.
Follow PPI Toulouse on Twitter !
PPI Toulouse punya account baru di Twiiter, mari ikuti PPI Toulouse di http://twitter.com/ppitoulouse
Dengan demikian, account ini melengkapi account kami sebelumnya dalam social networking, yaitu facebook, yang sudah lama aktif.
Sampai jumpa di dunia maya !
Posted in PPI Toulouse News
Apéro dansant : Done !
Tulisan ini bisa juga dibaca di facebook.
Di hari Sabtu sore yang cerah di Tournefeuille, L’Association Les Amis de l’Indonésie (AAI) bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Toulouse mengadakan kegiatan hari Indonesia. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Apéro dansant bertujuan untuk mengumpulkan dana, yang akan digunakan untuk membantu kegiatan pendidikan di Indonesia. Seperti biasa, dana ini disumbangkan pada beberapa sekolah di Jawa dan Sumatera.
Acara ini juga dihadiri tim KJRI Marseille.
Note : Sebelum Mulai Acara
Kegiatan Apéro dansant dibuka pukul 17h dan berakhir sekitar pukul 21h. Dalam Apéro dansant, pengunjung dapat menjumpai makanan khas Indonesia, seperti nasi goreng, mi goreng, lumpia, roti, dan lain-lain.
Dalam Apéro dansant, ada beberapa tarian khas Indonesia dan Prancis.
Note : Gerakan Membentuk Lingkaran
Note : Mas Andi Memberi Pengarahan
Note : Tarian Indonesia
Secara khusus, PPI Toulouse mempersembahkan tari Indang dari tanah Minangkabau. Siapa saja? Dwi (Uwie), Arip, Nemi, Arief, Awin, Herri, Afif, dan Wulan.
Note : Persiapan Tari Indang
Note : Gerakan Tari Indang
Note : Gerakan Tari Indang
Note : Foto Bersama Setelah Selesai Tari Indang
Note : Belajar Terbang
Note : Belajar Gerakan Kaki
Note : Belajar Poco Poco
Note : Pernak Pernik Indonesia
Note : Setelah Selesai Acara
Akhir kata, semoga kegiatan ini dapat memberi manfaat untuk memperkenalkan budaya Indonesia di negeri Napoleon. Dan khususnya semoga kegiatan ini dapat memberi sumbangsih bagi masyarakat Indonesia.
Posted in PPI Toulouse News


















Komen Terakhir