Tulisan sebelum rehat dari facebook.
Beberapa hari yang lalu, seorang teman di kampus bertanya, “Why do you have more than two thousands friends on your facebook?” Saya hanya tertawa saja. Agak sulit juga menjawabnya. Tapi hal yang tidak mustahil bahwa di Indonesia bukan hal yang asing jumlah teman di facebook lebih dari 1.000 orang.
Saya amati teman-teman di sini, paling mereka hanya ratusan. Atau tepatnya dibawah 500. Bisa dihitung dengan jari siapa saja yang punya teman diatas 500 orang. Iseng-iseng saya cari berapa jumlah pengguna facebook Indonesia, dan saya dapat data dari sini. Disitu disebutkan bahwa Indonesia menempati ranking ketiga dengan jumlah 23,2 juta. Lima besar pengguna facebook adalah Amerika Serikat (121,6), Inggris Raya (25,5 juta), Indonesia (23,2 juta), Turki (20,8 juta), dan Prancis (17,9 juta).
Mencengangkan memang. Saya berusaha mencari sumber lain sebagai pembanding. Misalnya wikipedia, namun ternyata wikipedia merujuk dari situs yg sama (www.facebakers.com). Saya bandingkan dengan sumber lain, sepertinickburcher, checkfacebook, dan lain-lain. Namun data dari sumber pertama lebih meyakinkan karena digunakan di wikipedia, yang artinya penulis-penulis wikipedia pasti sudah ngubek-ngubek data lain di internet.
Oke, kalau memang berpegang pada data pertama, yaitu jumlah pengguna facebook di Indonesia sudah mencapai 23,2 juta, apakah masih ada kemungkinan bertambah pesat? Saya jawab dengan yakin, kemungkinan besar masih pada saat ini. Mengapa? Dengan jumlah 23,2 juta, sebenarnya tingkat penetrasi hanya 9,9 persen. Bandingkan dengan Amerika Serikat (40,76 persen), Inggris Raya (43,09 persen), Turki (28,62 persen), dan Prancis (29,53).
Indonesia belum masuk dalam titik jenuh pertumbuhan facebook, dan saya yakin market penetration masih akan bertambah. Apalagi dengan budaya kekeluargaan di Indonesia yang jelas lebih tinggi dibanding negara barat. Bukan hal yang sulit bagi Indonesia untuk menempati peringkat kedua dibawah Amerika Serikat. Tentunya kecepatan pertumbuhan sebanding dengan pertumbuhan ketersediaan internet (supply) dan penurunan harga (pricing). Kalau faktor-faktor ini mendukung, maka facebook sebagai social networking paling nge-trend saat ini pasti akan berkembang.
Web 2.0 dan Media Konvensional
Kasus facebook diatas hanyalah secuil kasus dari keberhasilan web 2.0. Sebenarnya apa generasi 2.0? Istilah web 2.0 dipopulerkan oleh Tim O’Reilly pada tahun 2004. Sebenarnya Darcy DiNucci pernah menggunakan istilah web 2.0 dalam tulisan “Fragmented Future” tahun 1999 namun tidak terlalu populer hingga tahun 2003. Secara sederhana, web 2.0 merujuk pada kemungkinan partisipasi aktif dari user internet dalam pengembangan content, interaksi antara user, dan saling berbagi informasi. Contoh paling mudah adalah social networing, wikipedia, youtube, slideshare, 4shared,rapidshare, blog (wordpress, blogspot, multiply dll), media cetak (kompas, detik, dll), forum (kaskus), dan sebagainya.
Yang ingin saya tekankan adalah, sejak berkembangnya konsep web 2.0, maka peran internet menjadi lebih besar. Sebagai contoh, anak muda jaman sekarang lebih memilih membaca berita online daripada membaca koran cetak. Jangan bayangkan anak muda jaman sekarang masih mau minum kopi atau teh di pagi hari sambil membaca koran. Mereka lebih memilih mengakses berita di kantor, dari media online, atau dari perangkat mobile.
Anak muda jaman sekarang lebih asyik berdiskusi dalam forum dunia maya, karena justru memberikan kesempatan sebebas-bebasnya. Siapapun pun bisa membuat account di kaskus dan membuat thread dan memberi komentar, entah dalam bentuk mailing list, forum, dan social networking. Twitter dan facebook sudah biasa jadi tempat mengungkapkan perasaan anak muda. Anak muda ini didominasi oleh remaja (ABG), mahasiswa, pekerja kantoran, kalangan menengah, dan kalangan perkotaan. Mereka cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik daripada rata-rata.
Satu kasus keberhasilan peran web 2.0 adalah terpilihnya Barack Obamasebagai presiden ke-44 Amerika Serikat. Tim kampanye Obama cerdas menggunakan internet sebagai tools kampanye. Tim Obama tahu benar kalau anak muda di AS memang gandrung internet. Ketimbang hanya berkutat dengan media konvensional, Obama lebih memaksimalkan peran social networking. Personal branding seorang Obama mudah terbentuk dalam waktu sekejab. Bandingkan dengan politisi konvensional yang membangun karir politik selama puluhan tahun. Bandingkan dengan Hillary Clinton yang sudah mempersiapkan diri sejak tahun 2000. Obama sendiri baru muncul dikenal publik tahun 2004 sebagai keynote speaker kongres Demokrat dan baru menyatakan maju dalam konvensi nasional Demokrat pada awal 2007.
Itu kasus di AS, dimana market penetration tinggi untuk internet. Jika saat ini kita berharap bahwa Indonesia bisa mengalami kasus serupa seperti di AS, rasanya itu baru mimpi untuk saat ini. Sebagai negara berkembang, hal yang wajar jika penetrasi internet di Indonesia masih redah dibandingkan dengan negara maju. Penetrasi internet tentu saja didominasi kalangan perkotaan dan kalangan muda.
Namun pelan-pelan Indonesia sudah mulai menunjukkan peningkatan. Setidaknya dengan berkembangnya aplikasi internet yang mobile, ternyata memberikan dampak yang lumayan bagi kolaborasi web 2.0. Aktivitas user di dunia maya meningkat pesat. Dari sekedar menulis status tidak penting hingga umpatan kepada politisi. Semua bisa kita temukan di dunia maya.
Opini Publik
Sudah bukan rahasia lagi jika media massa berpengaruh besar dalam pembentukan opini publik. Sangat sedikit kita bisa menemukan media massa yang benar-benar netral. Bagi saya, omong kosong menemukan media massa yang benar-benar netral. Contoh paling mudah adalah jika Anda mengikuti kasus politik di Indonesia sejak jaman reformasi. Kalau memang jeli melihat stasiun TV, kita mestinya bisa melihat stasiun TV mana yang memihak kelompok A dan kelompok B. Kalau rajin membaca koran setiap hari, kita bisa melihat koran mana yang memihak kelompok A dan kelompok B.
Masyarakat sebagai konsumen utama media massa, pada akhirnya terkena pengaruh media massa. Ungkapan yang mudah adalah pembentukan opini publik. Sudah bukan rahasia umum beberapa media massa dikuasai oleh orang-orang tertentu. Hal yang logis bagi pemilik media massa, karena dia mendapat incentive untuk mempengaruhi opini publik. Apalagi jika pemilik media adalah politisi yang merangkap pengusaha. Penguasaan media massa adalah hal penting untuk membangun opini publik.
Namun apakah opini publik saat ini hanya bisa dibentuk oleh media konvensional? Beberapa kasus yang terjadi menunjukkan bahwa terdapat peluang besar dari perkembangan web 2.0. Di AS, kemenangan Obama tak bisa dilepaskan dari penggunaan social networking. Jika Anda mau sedikit memutar memori, kita bisa menemukan beberapa kasus yang melibatkan penggunaan web 2.0.
Masih ingat dengan fenomena Say No to Megawati? Di kalangan facebook, Mega dihina-hina sebagai calon presiden 2009. Kasus ini sempat membuat heboh kalangan facebook-ers. Apalagi kalau untuk urusan mencaci maki, memang sangat mudah dilakukan.
Masih ingat dengan kasus Prita? Kasus Prita dengan RS Omni International mencuat ke publik pada pertengahan 2009. Prita bukan siapa-siapa sebelumnya. Namun perkembangan social networking memungkinkan kasus ini menyebar dengan cepat. Apalagi kasus ini bukan termasuk kasus politik, dimana semua orang dari berbagai kalangan by defaultakan memihak Prita sebagai orang yang dianiaya. Tidak kurang semua Calon Presiden bersimpati kepada Prita.
Masih ingat dengan kasus Sony AK? Sony AK sebagai pemilih sah website tersebut digugat Sony Corp dari Jepang karena dianggap melanggar hak cipta. Kasus ini berkembang dengan cepat di dunia maya. Dukungan mengalir spontan untuk membela Sony AK dari gugatan Sony Corp.
Apakah peran web 2.0 selalu berhasil? Diatas adalah contoh beberapa kasus yang berhasil. Tidak dapat dipungkiri bahwa kasus Prita bisa mencuat ke publik berkat solidaritas user di dunia maya. Kasus terakhir adalah kriminalisasi KPK. Perkembangan kasus ini tak dapat lepas dari keterlibatan facebook-ers, hingga terbentuk grup di facebook yang beranggota lebih dari satu juta orang! Bahkan mereka bisa mengumpulkan dukungan publik dengan aksi nyata di bundaran Hotel Indonesia pada 8 November 2009.
Mantan aktivitas mahasiswa, Fadjroel Rahman pernah mencoba menggunakan web 2.0 untuk mendongkrak popularitas menjelang pemilihan Presiden 2009. Namun, sayang sekali Indonesia tidaklah sama seperti AS. Jumlah pengguna internet di Indonesia masih sedikit. Fadjroel Rahman terlalu sembrono membandingkan apple to apple dengan kasus kemenangan Obama di AS. Yah, itu contoh yang gagal. Gagal karena tidak didukung dengan strategi dan memang kondisi di Indonesia masih terlalu jauh untuk disamakan dengan AS.
Dengan melihat aktivitas user di dunia maya yang makin meningkat, bukan tidak mungkin kondisi kedepan akan berubah lebih maju. Asalkan penetrasi internet meningkat dengan cepat, maka peran web 2.0 akan makin meningkat.
Alternatif Kedepan
Setidaknya kita punya alternatif lain selain dominasi media konvensional. Masyarakat berhak mendapat informasi dari beragam sumber. Masyarakat merdeka untuk mendapatkan berita sesuai pilihannya. Masyarakat berhak mengungkapkan pendapat. Media konvensional tidak memberikan ruang besar bagu masyarakat untuk beropini. Setidaknya web 2.0 memberikan kemungkinan bagi wong cilik untuk bebas bercuap-cuap.
Dengan media sederhana semacam social networking dan blog, semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk mencurahkan ide. Facebook, twitter, blog, kompasiana, kaskus, dan forum detik menjadi ajang yang ramai untuk berekspresi.
Setidaknya inilah yang saya lihat dalam perkembangan opini di dunia maya. User dengan bebas memaki-maki. Sebagai contoh, kasus terakhir adalah mundurnya Sri Mulyani dari Menteri Keuangan. Dalam beberapa hari terakhir, saya melihat ungkapan muak kepada politisi. Bagi pendukung Sri Mulyani, mereka banyak menumpahkan rasa kesal pada politisi. Untuk lebih detail, silakan lihat KPI SMI, salah satu grup pendukung SMI.
Saya bukan politisi dan termasuk kelompok yang muak pada politisi, namun tidak selamanya saya selalu setuju pada perkembangan caci mencaci. Kalau melihat foto-foto dalam kasus caci mencaci, lama-lama terlihat bahwa menjurus ke fisik, seperti nampak pada foto ini. Jika melihat perkembangan kasus Century, lama-lama saya sendiri juga muak dengan ulah politisi. Kemarin bilang tempe, hari ini bilang tahu. Biarkan saja kasus ini berjalan di rel hukum dan jangan disetir dari sisi politis.
Bagaimana selanjutnya perkembangan kasus ini di dunia maya? Apakah dunia maya bisa berpengaruh besar dalam pembentukan opini publik dalam kasus ini? Kita tunggu saja perkembangan dalam sebulan ini.
Tapi, itulah efek dari keterbukaan dan kebebasan dalam berkolaborasi ala web 2.0. Semua user punya kesempatan yang sama untuk berekspresi. Kalau tidak berhati-hati, perkembangan teknologi bisa menerkam balik manusia sendiri. Barack Obama termasuk orang yang cerdas dan berhasil memanfaatkan nilai positif dari generasi 2.0.
Pendapat saya?
Biarkan saja semua berkembang. Semua akan mengalami pendewasaan pada waktunya. Tidak usah terlalu banyak diatur. Pemerintah tak perlu aneh-aneh bikin aturan yang aneh-aneh. Saya sempat berpikir, jangan-jangan Menkominfo akan membuat peraturan aneh-aneh tentang perkembangan internet. Kasus terakhir adalah RPM Konten dan Multimedia. Kasus ini sudah meredup saat ini. Konyol memang.
Yang perlu diatur adalah bagaimana pembuat konten bertanggung jawab atas semua yang ditulis. Setidaknya, dalam era web 2.0, peran media konvensional lebih berkurang dibanding sebelumnya. Berkurang disini, artinya kemampuan media konvensional untuk membentuk opini publik berkurang karena terdistorsi oleh perkembangan web 2.0. Namun kedua model tersebut bisa saling melengkapi.
Masyarakat punya kesempatan luas untuk memantau politisi. Politisi yang biasa bersilat lidah akan mudah tercatat semua tingkah lakunya.
Dan saya membayangkan 150 juta rakyat Indonesia bisa menikmati akses internet dengan lancar. Wow… Bayangkan saja jika mereka semua punya facebook, twitter, youtube dan semuanya. Dan ketika seorang politisi bikin ulah, semua status di social networking langsung mencaci maki politisi tersebut.
Masih mimpi….
Toulouse, 9 Mei 2010, 19:30 CET
Tulisan ini dibuat dengan kepala sedikit miring, seperti gedung DPR
Mohon maaf jika setelah baca ini, pikiran Anda jadi miring juga



Komen Terakhir